Instagram Twitter LinkedIn

Alohomora !

by Alvinia Yuliareza Gutomo

    • Home
    • Profile
    • Categories
    • Contact
     
    Valley of Fire, Everton, NV. Credit: Pinterest



    Apakah di setiap manusia berjalan akan selalu bertemu dengan persimpangan? Apakah jalan seseorang selalu bercabang? 

    Pada dasarnya, tidak ada jalan yang benar-benar lurus. Ada titik dimana jalan itu akan terpecah menjadi pertigaan, perempatan, perlimaan, dan per-per yang lain. Kecuali, ada di antara kalian berkunjung ke Valley of Fire di Overton. Kamu hanya perlu berjalan lurus. Eh, bukankah memang jalannya seperti itu? 

    Dan, bagaimana jika... begini.

    Persimpangan dan percabangan jalan sebenarnya hanya ilusi saja. Semisal, aku telah memilih untuk berjalan lurus, apakah aku masih tetap menganggap bahwa jalan itu mempunyai cabang? Bisa jadi, tidak. Berarti, ada alasan dalam diri kita yang menganggap bahwa persimpangan itu ada. Ya kan?

    Kenapa kita perlu repot untuk berhenti di persimpangan dan berpikir sejenak untuk mengambil jalan kembali? Ketika telah memutuskan untuk memulai berjalan, harusnya otak kita tidak perlu memikirkan ulang saat dihadapkan dengan percabangan. Setidak terencananya sebuah perjalanan, kita tidak lagi membutuhkan guide--yang harus digunakan sepanjang perjalanan. Toh di otak kita sudah terancap tujuan awal.

    Jadi, ketika di depan mata ada jalan yang bercabang kan tinggal lurus saja, apa susahnya?

     
    Ya susah.

     
    Tidak sedikit rencana yang berubah di tengah jalan. Ada orang yang kekeuh bahwa guide itu perlu. Katanya sebagai panduan. Kan perjalanan yang sudah terencana itu enak. Tapi ada pula yang tidak. Kalau sudah menetapkan tujuan, tapi di tengah jalan ada alternatif yang mempercepat, ya kenapa nggak diambil? Justru lebih enak. Makanya, bagi banyak orang planning itu perlu banget. 

    Tapi begini. Mau lewat jalan yang biasanya atau yang lebih cepat itu pilihan masing-masing, kan. Nggak jarang, jalan tercepat justru jalannya lebih ruwet? Aku dulu pernah mau ke terminal, sudah pakai maps nih. Eh, di tengah-tengah muncul jalan yang lebih cepat. Ambil nggak? Ya ambil lah. Lah ternyata jalannya itu masuk ke gang-gang kecil perumahan warga. Ribet toh? Tapi nggak ada jaminan juga jalan yang lebih umum itu lebih enak. Banyak kendalanya. Realitasnya macet, banyak yang tujuannya sama dengan kita; lampu merah berkali-kali, sabar, kalau diterobos malah melukai diri sendiri; atau ternyata jalannya lancar aman terkendali, ya alhamdulillah toh.

    Ya intinya nggak ada yang akan tahu apa yang bakal dihadapi di tengah jalan. Ya kalau permasalahan kayak tadi nggak jadi masalah, kan ujung-ujungnya bakal sampai di tempat tujuan. Tapi kalau dihadapkan dengan percabangan jalan yang kita nggak tahu harus ambil yang mana, kan bingung. Makanya itu ada yang dinamakan dengan unexpected journey.

    Kalau mau ambil percabangan jalan lain juga nggak masalah. Siapa tahu di sana menyediakan tempat singgah yang lebih menarik. Tapi nggak ada bisa menjanjikan juga. Kalau mau ambil, ya silahkan. Kan resiko ditanggung penumpang. Biasanya akan ada jalan putar balik, tapi ya nggak semua jalan ada. Nah terus gimana?

    Ya udah, ikuti aja jalannya.

    Setiap jalan akan mempunyai ujung.

    Kayak tadi, ada dimana jalan yang berbeda bakal ketemu di titik akhirnya. Kalau ragu ambil jalan lain, ya pikir-pikir dulu lah. Tapi kalau sudah mantab, di gas aja.

    Ada quotes dari Bapak Mandela, "May your choices is reflect your hopes not your fears," katanya.

    Jadi, tentukan sendiri. Setiap orang punya jalannya masing-masing.
    Continue Reading
    Credit: Pinterest








    kopi /ko·pi/ minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk
    (Wikipedia, 2017)










    Kamu dan kopi itu sama. Bikin candu.

    Kopi hitam paling nikmat selagi panas, kan? Aroma yang kuat, pekat bercampur dengan rasa pahit. Bila dinikmati perlahan akan tersesap rasa manis.

    Sama kayak kamu.

    Kamu enak dinikmati saat panas. Aroma kamu khas menusuk hidung, rasa kamu memabukan sejak kecapan pertama. Kayak kopi hitam. Bikin ketagihan. Aku suka ketika kamu menjelma menjadi kopi dan ketika kopi menjelma sebagai kamu.

    Tapi, tidak selamanya kopi itu hangat. Kalau didiamkan, berubah jadi dingin. Tidak lagi menebarkan aroma memabukan. Aromanya mengendap dan manis pun hilang. Hanya tersisa pahit.

    Bagaimana jika ditambah es? Jadi es kopi.

    Es kopi mampu mendinginkan isi kepala, bisa menguraikan kebekuan.

    Lalu, benarkah cinta itu seperti rasa kopi yang pahit, manis, dan asam namun yang paling terasa adalah pahitnya?

    Terkadang kamu lupa, kopi seperti apa yang aku suka. Kopi mana yang takarannya cukup untuk membuatku bahagia. Aku memang suka kopi. Aku suka kopi, dan pahit sebagai canda di sela-selanya, serta samar-samar manis sebagai akhirnya. Tapi bukan pahit pada seluruh cangkirnya.

    It's just like when you've got some coffee that's too black, which means it's too strong. What do you do? You integrate it with cream, you make it weak. But if you pour too much cream in it, you won't even know you ever had coffee. It used to be hot, it becomes cool. It used to be strong, it becomes weak. It used to wake you up, now it puts you to sleep - Malcom X
    Continue Reading
    "Pada akhirnya semua telah berlalu
    Bagaimanapun kita telah melewati ini semua
    Biarlah ini menjadi kisah di pojok kenangan yang suatu hari nanti akan kita lupakan atau bahkan akan menjadi sebatas kenangan
    Yang terjadi telah terjadi
    Tidak ada yang bisa disalahkan kalau nyatanya dulu kita pernah sepakat untuk saling menyatukan
    Bagaimanapun, di masa lalu aku pernah kau sebut sayang dan begitupun juga kamu pernah menyemangatiku untuk berjuang meraih mimpiku
    Namun sudahlah, aku dan kau telah usai."
    -Boy Candra-

    Menurutku, ada saatnya kita perlu memberi waktu untuk bertanya pada diri sendiri. Bukan berarti harus 'menyediakan', ketika kita tersadar dengan sendiri, misalnya. Aku pernah membaca satu kalimat, bunyinya 'Time flies and nothing changes'. Muncul pertanyaan, benarkah tidak ada yang berubah? Yang aku tahu, waktu selalu memberi ruang untuk menunjukkan akan apa yang sedang atau telah terjadi. Segala sesuatu yang terjadi patutnya digolongkan dalam perubahan.

    Aku pernah bercerita sesuatu pada seorang teman. Sesuatu ini tentang hal yang aku rasakan dan baru saja aku sadari. Ketika orang yang telah ada untuk mengisi hari-hari, tiba saatnya memilih pergi. Cerita yang awalnya indah, akhirnya menjadi kisah yang membuat sedih. Memang benar, cerita-cerita itu akan menjadi kenangan—kesan atau sesuatu yang membekas dalam ingatan. 

    Kemudian, begini temanku menanggapinya:

    Yang bisa dipelajari, kenangan bukan untuk dilupakan,
    kenangan bakal selalu ada di sudut memori kita.
    Kenangan masa lalu baiknya ditumpuk dengan kenangan baru.


    Kita boleh jadi membenci atas kehidupan ini, boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milikmu hingga dia tiba di dermaga terakhirnya (Tere Liye – Rindu: 284).

    Aku merasa telah berhasil melakukannya, ternyata belum. Aku masih berada pada tataran proses melupakan. Belum sepenuhnya. Katanya, itu hal yang wajar. Benarkah?
    Continue Reading


    Rindu.

    Dua suku kata yang membelenggu.

    --

    Aku merindukannya.

    Apa aku terlihat seperti orang yang malu untuk mengakuinya? Atau malah aku terlihat seperti gadis kecil yang merengek minta dibelikan balon dan harum manis?

    Tak cukup nyali aku untuk mengatakannya karena yang merasakan rindu adalah hatiku.
    Sedangkan aku bukan hanya persoalan tentang hatiku. Ada banyak hal lain yang ada dalam diriku.

    --

    Kemarilah. Aku bisikan sesuatu.

    Rindu ini sudah sampai pada tahap dimana tidak bisa lagi untuk dibendung. Dan aku mencintaimu dibalik jendela hitam bertuliskan rindu.

    --

    Dimana aku harus menumpahkannya? Aku yakin tak ada ruang yang muat untuk menampungnya. Aku pastikan itu.

    Jika rindu sendiri adalah sebuah rumah, sebagai penghuni setianya, maka aku tidak akan pernah mau beranjak pergi.

    Jika malam mampu berbicara, aku yakin ia bosan dan sudah mencekik tubuhku dengan udara dinginnya.

    --

    Rindu.

    Jadi, dimana itu?

    Apakah yang sedang dibicarakan lewat secangkir kopi? Atau keresahan yang coba disembunyikan dengan puntung rokok?

    Apa jangan-jangan...

    Rindu itu...






    Pelukan hangat yang kau berikan padaku semalam?

    --

    Rindu.

    Dapatkah kita saling bertemu?
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow Me

    Follow @alviniagutomo

    Labels

    Event Holiyay! Ilmu Komunikasi Random thoughts

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  January (1)
        • Mau Travelling? Bikin Itinerary dulu yuk!
    • ►  2020 (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2019 (5)
      • ►  October (1)
      • ►  September (1)
      • ►  August (1)
      • ►  February (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2018 (7)
      • ►  November (2)
      • ►  October (2)
      • ►  September (2)
      • ►  January (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  November (1)
      • ►  September (1)
      • ►  April (2)
      • ►  February (1)
    • ►  2016 (8)
      • ►  December (1)
      • ►  October (1)
      • ►  August (1)
      • ►  July (1)
      • ►  June (2)
      • ►  May (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2015 (5)
      • ►  December (3)
      • ►  March (2)
    • ►  2014 (1)
      • ►  August (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  March (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2012 (1)
      • ►  December (1)

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top