Instagram Twitter LinkedIn

Alohomora !

by Alvinia Yuliareza Gutomo

    • Home
    • Profile
    • Categories
    • Contact
    Credit to Janko Ferlic 

    "Mbak, islam kan ya? Kok nggak pakai kerudung?"

    Sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh mbak-mbak kuliahan lengkap dengan gamis tertutup. Hampir semua orang mengira aku non-muslim karena wajahku yang Chinese. Begitu tahu aku muslim, beberapa di antaranya minta maaf tapi lainnya melontarkan ceramah seperti pertanyaan di atas. Tenang, itu baru kalimat pembukanya.

    Emang pahala kok kalau ngajak kebaikan dan saling mengingatkan. Tapi kalau nodong? Apa dapat pahala juga?

    Hng. Nggak tau deh, aku bukan Tuhan.

    Kalau pertanyaannya, apakah wanita Islam harus berkerudung? Iya, karena salah satu perintah Rasulullah.

    Tapi, apakah wanita Islam yang belum berkerudung harus 'dipaksa' untuk berkerudung? Enggak dong.

    Jangan sampai nih kerudung jadi 'alat' buat ngehakimin orang. Kerudung nggak bisa jadi tolak ukur tingkat keimanan orang. Lantas gimana dong sama cewek yang belum berkerudung karena tuntutan pekerjaan, misalnya. Masa iya mereka harus merelakan sumber mata uangnya?

    "Rejeki nggak akan kemana, sudah janji Allah", kata si mbaknya lagi.

    Bener, mbak. Tapi, nggak boleh juga dong ngebuang rejeki yang sudah dikasih?

    Dari sini, aku jadi semakin bertanya-tanya dan keheranan. Ada ya orang yang 'berani' buat bilangin seorang cewek untuk (harus) pakai kerudung. Ya tentunya kerudung emang bukan hal yang tabu, balik lagi—jangan sampai kerudung dijadikan tolak ukur keimanan orang.

    Terus, apakah perlu menanyakan keimanan orang lain? Apakah perlu untuk tahu sudah berapa banyak pahala orang?

    Kenapa sih kehidupan spiritual orang itu perlu ditanyakan?
    Continue Reading
    via Pinterest

    Nyaman bisa buat orang nggak akan kemana-mana.
    Kalau sudah terlalu dalam, bisa bikin orang takut kemana-mana.
    Yang penting, jangan hilang.

    Nggak apa jalan kemana-mana, yang penting jangan lupa jalan pulang.

    Nyaman bisa berubah jadi jebakan.

    Nggak semua yang terlihat baik itu benar.
    Nggak semua hal jelek itu menyesatkan.
    Janganlah gampang menyimpulkan.
    Coba aja bertahan.

    "Rasa itu seperti tanaman. Harus dirawat dan dijaga. Kalau tidak ya pasti mati dan hilang"

    Karena yang nggak dijaga bakal hilang dan yang nggak disimpan bakal diambil orang.
    Continue Reading
     
    Valley of Fire, Everton, NV. Credit: Pinterest



    Apakah di setiap manusia berjalan akan selalu bertemu dengan persimpangan? Apakah jalan seseorang selalu bercabang? 

    Pada dasarnya, tidak ada jalan yang benar-benar lurus. Ada titik dimana jalan itu akan terpecah menjadi pertigaan, perempatan, perlimaan, dan per-per yang lain. Kecuali, ada di antara kalian berkunjung ke Valley of Fire di Overton. Kamu hanya perlu berjalan lurus. Eh, bukankah memang jalannya seperti itu? 

    Dan, bagaimana jika... begini.

    Persimpangan dan percabangan jalan sebenarnya hanya ilusi saja. Semisal, aku telah memilih untuk berjalan lurus, apakah aku masih tetap menganggap bahwa jalan itu mempunyai cabang? Bisa jadi, tidak. Berarti, ada alasan dalam diri kita yang menganggap bahwa persimpangan itu ada. Ya kan?

    Kenapa kita perlu repot untuk berhenti di persimpangan dan berpikir sejenak untuk mengambil jalan kembali? Ketika telah memutuskan untuk memulai berjalan, harusnya otak kita tidak perlu memikirkan ulang saat dihadapkan dengan percabangan. Setidak terencananya sebuah perjalanan, kita tidak lagi membutuhkan guide--yang harus digunakan sepanjang perjalanan. Toh di otak kita sudah terancap tujuan awal.

    Jadi, ketika di depan mata ada jalan yang bercabang kan tinggal lurus saja, apa susahnya?

     
    Ya susah.

     
    Tidak sedikit rencana yang berubah di tengah jalan. Ada orang yang kekeuh bahwa guide itu perlu. Katanya sebagai panduan. Kan perjalanan yang sudah terencana itu enak. Tapi ada pula yang tidak. Kalau sudah menetapkan tujuan, tapi di tengah jalan ada alternatif yang mempercepat, ya kenapa nggak diambil? Justru lebih enak. Makanya, bagi banyak orang planning itu perlu banget. 

    Tapi begini. Mau lewat jalan yang biasanya atau yang lebih cepat itu pilihan masing-masing, kan. Nggak jarang, jalan tercepat justru jalannya lebih ruwet? Aku dulu pernah mau ke terminal, sudah pakai maps nih. Eh, di tengah-tengah muncul jalan yang lebih cepat. Ambil nggak? Ya ambil lah. Lah ternyata jalannya itu masuk ke gang-gang kecil perumahan warga. Ribet toh? Tapi nggak ada jaminan juga jalan yang lebih umum itu lebih enak. Banyak kendalanya. Realitasnya macet, banyak yang tujuannya sama dengan kita; lampu merah berkali-kali, sabar, kalau diterobos malah melukai diri sendiri; atau ternyata jalannya lancar aman terkendali, ya alhamdulillah toh.

    Ya intinya nggak ada yang akan tahu apa yang bakal dihadapi di tengah jalan. Ya kalau permasalahan kayak tadi nggak jadi masalah, kan ujung-ujungnya bakal sampai di tempat tujuan. Tapi kalau dihadapkan dengan percabangan jalan yang kita nggak tahu harus ambil yang mana, kan bingung. Makanya itu ada yang dinamakan dengan unexpected journey.

    Kalau mau ambil percabangan jalan lain juga nggak masalah. Siapa tahu di sana menyediakan tempat singgah yang lebih menarik. Tapi nggak ada bisa menjanjikan juga. Kalau mau ambil, ya silahkan. Kan resiko ditanggung penumpang. Biasanya akan ada jalan putar balik, tapi ya nggak semua jalan ada. Nah terus gimana?

    Ya udah, ikuti aja jalannya.

    Setiap jalan akan mempunyai ujung.

    Kayak tadi, ada dimana jalan yang berbeda bakal ketemu di titik akhirnya. Kalau ragu ambil jalan lain, ya pikir-pikir dulu lah. Tapi kalau sudah mantab, di gas aja.

    Ada quotes dari Bapak Mandela, "May your choices is reflect your hopes not your fears," katanya.

    Jadi, tentukan sendiri. Setiap orang punya jalannya masing-masing.
    Continue Reading
    Credit: Pinterest








    kopi /ko·pi/ minuman hasil seduhan biji kopi yang telah disangrai dan dihaluskan menjadi bubuk
    (Wikipedia, 2017)










    Kamu dan kopi itu sama. Bikin candu.

    Kopi hitam paling nikmat selagi panas, kan? Aroma yang kuat, pekat bercampur dengan rasa pahit. Bila dinikmati perlahan akan tersesap rasa manis.

    Sama kayak kamu.

    Kamu enak dinikmati saat panas. Aroma kamu khas menusuk hidung, rasa kamu memabukan sejak kecapan pertama. Kayak kopi hitam. Bikin ketagihan. Aku suka ketika kamu menjelma menjadi kopi dan ketika kopi menjelma sebagai kamu.

    Tapi, tidak selamanya kopi itu hangat. Kalau didiamkan, berubah jadi dingin. Tidak lagi menebarkan aroma memabukan. Aromanya mengendap dan manis pun hilang. Hanya tersisa pahit.

    Bagaimana jika ditambah es? Jadi es kopi.

    Es kopi mampu mendinginkan isi kepala, bisa menguraikan kebekuan.

    Lalu, benarkah cinta itu seperti rasa kopi yang pahit, manis, dan asam namun yang paling terasa adalah pahitnya?

    Terkadang kamu lupa, kopi seperti apa yang aku suka. Kopi mana yang takarannya cukup untuk membuatku bahagia. Aku memang suka kopi. Aku suka kopi, dan pahit sebagai canda di sela-selanya, serta samar-samar manis sebagai akhirnya. Tapi bukan pahit pada seluruh cangkirnya.

    It's just like when you've got some coffee that's too black, which means it's too strong. What do you do? You integrate it with cream, you make it weak. But if you pour too much cream in it, you won't even know you ever had coffee. It used to be hot, it becomes cool. It used to be strong, it becomes weak. It used to wake you up, now it puts you to sleep - Malcom X
    Continue Reading
    "Pada akhirnya semua telah berlalu
    Bagaimanapun kita telah melewati ini semua
    Biarlah ini menjadi kisah di pojok kenangan yang suatu hari nanti akan kita lupakan atau bahkan akan menjadi sebatas kenangan
    Yang terjadi telah terjadi
    Tidak ada yang bisa disalahkan kalau nyatanya dulu kita pernah sepakat untuk saling menyatukan
    Bagaimanapun, di masa lalu aku pernah kau sebut sayang dan begitupun juga kamu pernah menyemangatiku untuk berjuang meraih mimpiku
    Namun sudahlah, aku dan kau telah usai."
    -Boy Candra-

    Menurutku, ada saatnya kita perlu memberi waktu untuk bertanya pada diri sendiri. Bukan berarti harus 'menyediakan', ketika kita tersadar dengan sendiri, misalnya. Aku pernah membaca satu kalimat, bunyinya 'Time flies and nothing changes'. Muncul pertanyaan, benarkah tidak ada yang berubah? Yang aku tahu, waktu selalu memberi ruang untuk menunjukkan akan apa yang sedang atau telah terjadi. Segala sesuatu yang terjadi patutnya digolongkan dalam perubahan.

    Aku pernah bercerita sesuatu pada seorang teman. Sesuatu ini tentang hal yang aku rasakan dan baru saja aku sadari. Ketika orang yang telah ada untuk mengisi hari-hari, tiba saatnya memilih pergi. Cerita yang awalnya indah, akhirnya menjadi kisah yang membuat sedih. Memang benar, cerita-cerita itu akan menjadi kenangan—kesan atau sesuatu yang membekas dalam ingatan. 

    Kemudian, begini temanku menanggapinya:

    Yang bisa dipelajari, kenangan bukan untuk dilupakan,
    kenangan bakal selalu ada di sudut memori kita.
    Kenangan masa lalu baiknya ditumpuk dengan kenangan baru.


    Kita boleh jadi membenci atas kehidupan ini, boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milikmu hingga dia tiba di dermaga terakhirnya (Tere Liye – Rindu: 284).

    Aku merasa telah berhasil melakukannya, ternyata belum. Aku masih berada pada tataran proses melupakan. Belum sepenuhnya. Katanya, itu hal yang wajar. Benarkah?
    Continue Reading


    Rindu.

    Dua suku kata yang membelenggu.

    --

    Aku merindukannya.

    Apa aku terlihat seperti orang yang malu untuk mengakuinya? Atau malah aku terlihat seperti gadis kecil yang merengek minta dibelikan balon dan harum manis?

    Tak cukup nyali aku untuk mengatakannya karena yang merasakan rindu adalah hatiku.
    Sedangkan aku bukan hanya persoalan tentang hatiku. Ada banyak hal lain yang ada dalam diriku.

    --

    Kemarilah. Aku bisikan sesuatu.

    Rindu ini sudah sampai pada tahap dimana tidak bisa lagi untuk dibendung. Dan aku mencintaimu dibalik jendela hitam bertuliskan rindu.

    --

    Dimana aku harus menumpahkannya? Aku yakin tak ada ruang yang muat untuk menampungnya. Aku pastikan itu.

    Jika rindu sendiri adalah sebuah rumah, sebagai penghuni setianya, maka aku tidak akan pernah mau beranjak pergi.

    Jika malam mampu berbicara, aku yakin ia bosan dan sudah mencekik tubuhku dengan udara dinginnya.

    --

    Rindu.

    Jadi, dimana itu?

    Apakah yang sedang dibicarakan lewat secangkir kopi? Atau keresahan yang coba disembunyikan dengan puntung rokok?

    Apa jangan-jangan...

    Rindu itu...






    Pelukan hangat yang kau berikan padaku semalam?

    --

    Rindu.

    Dapatkah kita saling bertemu?
    Continue Reading

    Kita adalah dua orang yang secara kebetulan duduk bersisian: berbagi matahari, laut, langit, cahaya, kapuk yang berterbangan, bebatuan, dan jejak bintang.


    Mungkin kita memang sedang tidak hendak beranjak kemana-mana.

    Kita hanya duduk di sini, menikmati waktu yang pelan-pelan menyelinapkan kata ke dalam tepian jemari. Kita sedang tidak terburu-buru, tidak juga sedang terlambat, bahkan tidak sedang mengejar waktu. Kita tidak sedang bergegas menuju suatu tempat.

    Sesekali, salah satu dari kita akan beranjak pergi. Yang lainnya tidak akan bertanya, tidak akan mencegah, dan tidak akan mengejar. Hanya memasang senyum dan melambaikan tangan.


    Ia yang pergi tidak pernah berjanji akan kembali. Ia yang tinggal tidak berucap akan menunggu yang pergi kembali.


    Semua yang memang untukmu pada akhirnya akan kembali padamu. Semua yang bukan untukmu, tidak akan pernah menjadi milikmu meski sekeras apapun kamu berusaha.

    Mungkin kita hanya saling menemukan, meski sekalipun tidak merasa kehilangan.

    Sesekali, aku akan pergi dan kamu sesekali akan pergi. Suatu hari nanti, kita akan pulang. Entah kemana. Mungkin ke tempat ini lagi atau mungkin ke tempat lain.

    Suatu hari nanti, aku akan kembali dan kamu akan kembali. Atau mungkin tidak. Tetapi, hal itu bukan masalah. Karena saat ini memang kita sedang tidak hendak beranjak kemana-mana. Saat ini, itulah tujuan kita, untuk sementara.
    Continue Reading




    "Perpisahan yang menyedihkan ialah perpisahan karena kesalahpahaman"


    Merasa sedih karena disalahkan dan menyalahkan
    Kecewa dengan perlakuan dan bagaimana diperlakukan
    Berujung pasrah akan keadaan



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah tidak tahu akan apa yang telah diperjuangkan"


    Berpikir merasa lebih baik jika sendiri
    Percaya bahwa dirinya gagal menjadi orang yang dibutuhkan
    Memilih menjauh dan mengakhiri



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah sadar bahwa dirinya lelah"


    Menimbang apa yang telah dilakukan
    Membandingkan dengan apa yang telah didapat
    Menggenggam sejuta angan



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah tanpa tahu harus hidup bagaimana setelahnya"


    Tidak banyak yang dilakukan
    Memilih untuk menghindar
    Bertindak seolah tidak ada


    "Perpisahan yang menyedihkan ialah perpisahan karena kesalahpahaman"


    p.r.a.s.a.n.g.k.a


    menjadi menyedihkan ketika keduanya sadar setelah berpisah



    ----



    Perpisahan ialah upacara untuk menyambut hari-hari penuh rindu
    -Pidi Baiq-




    Continue Reading
    11:19 PM

    ---

    Tulisan ini berawal ketika saya melihat seorang gadis kecil yang bermain ayunan di sebuah taman. Dia tidak sendirian, di depannya seorang laki-laki yang mempunyai wajah sama dengannya siap menangkap dan mendorong tiang ayunan. Gadis kecil itu terdengar sekali memanggilnya dengan sebutan "ayah". Bukan sebuah pemandangan indah yang patut dipandangi dalam jangka waktu yang lama. Tetapi, mata saya tidak dapat berpaling dari momen yang terasa hangat diantaranya keduanya. Berkali-kali kedua kelopak mata saya berkedip, mereka masih disana—gadis berumur empat tahun tetap duduk di ayunan yang berayun berkat dorongan dari sang ayah.

    Ah senangnya, batin saya. Apa yang terjadi oleh kedua orang tersebut mampu membawa saya pada potongan ingatan masa lalu dimana seorang laki-laki berkulit putih, rambut cepak dan beruban, mata sipit, dan bibir tipis bertatapan dengan lamunan saya. Sama seperti gadis kecil tadi, saya memanggilnya "papa". Beda panggilan tapi ditujukan pada sosok yang sama. Setidaknya selama tiga belas tahun, saya menciptakan momen bersama papa yang tak kalah indahnya dengan gadis kecil—yang saya tidak tahu siapa namanya. Bisa jadi, dulu saya juga pernah menaiki ayunan dan papa saya mendorong keras tiangnya hanya agar putri kecilnya ini tertawa riang. Saya tidak ingat, mungkin kenyataannya saya dan papa saya tidak melakukan itu.

    Setiap teringat dengannya, saya hanya bisa berdiam diri. Kadang ketika saya berbaring di atas kasur kamar, duduk sambil menonton televisi yang lama-lama suaranya tidak terdengar, atau bahkan ketika saya mengendarai motor (jangan ditiru, ya). Seringnya, ketika saya mengingat papa saya yaitu ketika saya berbaring ke kanan dan memeluk guling empuk. Dari situ, saya mengingat wajahnya, apa saja yang telah papa saya lakukan, kebiasaannya, bahkan saya juga mengingat-ingat saat pertemuan terakhir saya dengannya.

    Saya mengakhiri ingatan saya dengan hal yang sama, tetesan air mata. Terdengar cupu, ya? Tapi yang jelas, saya menjadi gadis cengeng setiap melakukan hal yang saya tahu bahwa saya selalu menangis.

    Kadang saya berandai-andai, bagaimana jadinya kalau papa saya masih bersama saya, mama, kakak, dan adik saya. Banyak kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, anak dari kakak saya bisa melihat kakeknya. Mungkin setiap minggu dia akan diajak ke tempat wisata, dibelikan mainan baru, dan diberi uang saku. Kedua, adik saya bisa mendapat semua keinginannya. Sekarang usia adik saya dua belas tahun, berarti papa saya berusia lima puluh lima tahun. Papa saya masih bisa mengendari motor dan adik saya tidak perlu khawatir siapa yang akan mengantar dan menjemputnya sekolah. Oh! Bisa jadi adik saya akan bersekolah di sekolah gedongan seperti saya dan kakak saya, bukan di sekolah dekat rumah.

    Kemungkinan ketiga, mama saya tidak perlu berpikir dan bekerja terlalu keras bahkan ketika mendekati pensiun. Membuka usaha pasti akan mendapat dukungan penuh dari papa saya. Ah iya! Toko kecil-kecilan di teras rumah kami dulu bisa saja jadi toko besar! Etalase-etalase kaca bertambah banyak, mungkin papa saya juga akan menambahkan lemari kayu yang besar. Lalu mengganti mesin fotokopi dengan mesin yang lebih besar dan canggil serta tempat menyimpan uang yang bisa mengeluarkan struk pembelian.

    Oh! Dulu kami menamainya "Cahaya Cell". Ah, pasti sekarang jadi toko yang besar dan ada cabang! Hahaha

    Kemungkinan buat saya sendiri pasti banyak. Saya tidak perlu menyusahkan teman ketika berangkat sekolah dulu karena papa saya pasti membelikan sepeda motor untuk anaknya. Yang paling penting, papa saya akan datang ketika wisuda dan pelepasan waktu SMA. Apalagi ketika kuliah, ah papa saya pasti akan mengunjungi saya setiap minggu. Kalau mama saya kurang memberi uang saku, ada papa saya kan? Saya tinggal bilang dan beliau pasti mengerti. Lalu, saya tidak perlu mengantri dan berdesak-desakan menaiki bus untuk pulang ke rumah, papa saya mungkin akan menjemput saya dengan sepeda motor merk blitz kawasaki warna hitam kesayangannya.

    Hmm. Mobil seperti apa ya yang akan papa saya beli?

    Kemungkinan lainnya ialah liburan. Saya nggak hanya melihat teman-teman yang memasang foto profil dengan latar landmark negeri tetangga, bahkan bisa saja saya juga akan berfoto disana dengan papa saya. Everythings will happen with my dad.

    Ah senangnya, batin saya lagi.

    Namun yang pasti, kemungkinan-kemungkinan di atas tidak dapat terjadi karena kondisinya berbeda bahkan justru sebaliknya. Yeah, saya sadar setiap kali kedua manik saya mengeluarkan butiran-butiran yang membasahi pipi saya setiap malam. Bantal, guling, dan selimut jadi korban. Apakah rasanya seperti itu jika kita mengingat orang yang disayang?

    Apakah setiap gadis akan menangis jika mengingat papanya yang sudah tidak ada bersamanya? Apakah hanya saya saja?

    Jika iya, saya berharap itu hal yang normal.

    Setiap saya merasa rindu dengannya, itulah hal yang saya bayangkan. Hanya bayangkan karena meminta kepada yang berkehendak pun tidak dikabulkan. Satu-satunya cara yang saya lakukan untuk meredakannya ialah memandang kemudian menyimpan baik-baik foto almarhum papa saya. Setelahnya, saya berdoa dan tertidur lelap. Saya tidak pernah dan tidak ingin melewatkan 'adat' bertemu papa saya, meski hanya sebatas memandangi nama, tanggal lahir, tanggal wafat, dan tanah di tempat papa saya tertidur.

    Saya pikir, itu obat rindu bagi saya.

    Tidak jarang sifat dan tingkah papa, saya terapkan. Spontan, saya mengadopsi bagaimana papa saya berbaik hati memberikan uang kembalian kepada tukang parkir. Cerita sedikit, papa saya adalah orang yang bijaksana dan begitu menyayangi anaknya. Papa tidak pernah marah ketika di bangku sekolah dasar, saya mendapat nilai 60-70. Papa selalu mengatakan, "Wah hebat bisa dapet nilai 60" atau tidak pernah lelah mengajari saya pembagian di matematika. Dulu, saya kerap masuk ke ruang kerja papa saya hanya untuk menanyakan satu soal matematika atau meminjam telepon.

    Namun, satu hal lancang yang selalu saya perbuat adalah meminum fanta merah ketika papa menyuruh saya membelinya. Hanya seteguk dan selalu begitu. Untungnya, papa tidak pernah curiga atau menanyakan pada saya kenapa volumenya jadi berkurang. Bahkan setiap kali membeli es kelapa, saya beralasan bahwa itu diminta oleh papa agar diberi daging kelapa muda (penjual es kelapa di kampung saya tidak mau repot memilih-memilih kelapa muda) padahal papa saya tidak menyuruh untuk membelinya.

    Kadang saya juga membayangkan, bagaimana jadinya ketika saya berulang tahun dan papa merayakannya seperti anak lain pada umumnya. Bisa jadi papa saya akan mengundang seluruh teman saya, membelikan kue ulang tahun, menyewa di rumah makan fastfood, dan ada pemandu acaranya. Pasti meriah dan perayaan itu jadi perayaan ulang tahun kedua, selain saat umur saya menginjak enam tahun.

    Sampai sekarang pun saya masih terus membayangkan hal apa saja yang akan saya dan papa lakukan. Semoga apa yang saya lakukan tidak akan membuat perasaan tidak nyaman untuk papa sekarang. Saya tidak mempunyai tempat berkeluh kesah. Jangankan tempat, kepada siapa saya harus mengungkapkannya saya tidak tahu dan terlalu malu mengutarakannya. Bukan berarti saya tidak bersyukur atas apa yang telah menjadi milik saya saat ini, sebaliknya. Saya hanya berandai untuk membuat bahagia diri saya—

    dan saya pikir cara itulah yang tepat.

    Saya bersyukur bahwa saya masih mampu untuk mendoakan agar papa saya mendapat kehidupan yang layak dan bahagia disana.

    ---

    12.34 AM
    Continue Reading
    (c) google image


    Do you ever feel ignored by someone?

    Your friend(s) maybe.

    or

    Sharing with each other but you instead ignored?


    Why?


    Because your story or problem is not important, or

    they're feel you didn't take it easy?


    Oh c'mon. You need someone who support you, right?

    Someone who can understand how you feel, yes?


    You didn't need with someone who say "Didn't think about it. Just take it slow, guys!"


    Do you think that what he/she saying is a bullshit?

    You came to her/him because you want to be heard and sure you need a solution or something suggest.

    How you feel if your friend(s) say like that?


    Are you angry?

    Are you still sharing with them about something that can confused your mind?

    maybe, you say "Thanks" and ended your chat directly?


    What you going to do next?


    Contact another friend or stop it and thinking by yourself?


    You must admit that: you just need a person who agree with your argument.


    -not little to much-
    Continue Reading
    © @themodernleper

    Rasa bosan sama pasangan itu manusiawi.
    Dan di titik ini kadang muncul orang-orang yang kamu anggap lebih baik, lebih keren, lebih perhatian, dan lain sebagainya.

    Tapi, itu cuma ilusi.

    Ilusi yang kamu ciptakan dari rasa kebosanan terhadap pasanganmu.

    Orang yang kamu anggap lebih tadi hanyalah 'lebih baru' saja.

    Nanti kamu jalan sama dia dan meninggalkan pasangan lamamu. Akhirnya?

    Rasanya bakal sama saja.

    Dia nggak lebih baik, keren, perhatian, dan sebagainya. Cuma orang yang lebih baru kemudian membosankan lagi.

    Jangan terjebak ilusi. Orang yang jatuh cinta, level toleransinya akan berjuta-juta. Sedangkan orang yang bosan sama pasangannya?

    Akan lebih mudah melihat kekurangnnya.

    Rasa bosan ialah ujian.

    Jangan mencari pasangan yang sempurna, ujungnya kamu menyia-nyiakan orang yang sudah ada.

    Kemudian, terjebak dengan orang yang seadanya.
    Continue Reading
    -some infinites are bigger than the other infinites-

    Terima kasih telah datang ke mimpiku karena memikirkanku sebelum kau tidur. Aku tahu di dunia yang sesungguhnya, tak ada waktu bagi kita untuk berkata. Waktu yang diberikan pada kita hanyalah cukup untuk saling bertatap. Aku menatap matamu dan kau menatap mataku. Ah! Rasanya di sekelilingku seraya berhenti.

    Aku lupa tepatnya kapan kita mulai saling mengenal karena menurutku tanggal, bulan, tahun, dan pukul tidaklah kita perlukan jika ingin saling mengenal. Bisa saja berbicara tanpa kita sadar dan kita tidak bisa mengendalikannya. Mengendalikan rasa yang tiba-tiba muncul. Tak hanya aku, tapi kau juga.

    Jangan mengelak, aku tahu ketika kita saling bertatap.

    Aku tidak mengerti, kau bilang insan yang saling sayang tak mesti bersama. Tetapi kau bilang betapa indahnya jika kita berdua. Aku masih ingat ketika tanganmu melingkar di pundak dan pinggangku. Hanya sekali, selebihnya kau melingkarkan jemarimu di sela-sela jariku. Karena katamu, "Biar mudah mengajakmu berlari."

    Hmm ayolah, kapan hal itu bisa terjadi?

    Padahal aku selalu siap mengeratkan jemariku kapanpun saat kau mulai melangkahkan kakimu. Aku selalu siap tersenyum saat kau menoleh kepadaku. Aku selalu siap tertawa saat kau melakukan hal-hal bodoh.

    Hmm ayolah, aku sudah siap bahkan sebelum kau mengajakku.

    Tapi, kau selalu bilang kita tak perlu terikat pada kata atau kalimat yang menandakan sebuah hubungan. Karena katamu kita lebih leluasa jika tak ada hal-hal seperti itu.

    Hmm ayolah, menurutku itu sesuatu yang penting.

    Aku ingin kita saling berucap kata-kata recehan yang kita dengar di sekeliling kita. Aku ingin kita melakukan hal-hal yang kita lihat di sekeliling kita. Aku tidak memohon karena aku tahu kau pun juga ingin.

    Jangan mengelak, aku tahu ketika saling bertatap.

    Aku ingin, kau juga ingin. Lalu kapan? Kapan kau akan berucap?

    Apa? Semalam?

    Semalam kita tidak bertemu. Semalam kau tidak melingkarkan tanganmu pada pundak atau pinggangku. Semalam kau dan aku berhenti bertatap. Lalu semalam mana yang kau maksud?

    Apa semalam ketika kau datang di mimpiku?
    Continue Reading


    20 Desember 2015


    Dia seorang gadis dan mempunyai pasangan berjenis kelamin laki-laki. Dia seorang gadis yang keras kepala dan plin-plan.

    -Kasihan laki-lakinya, harus menuruti segala keinginannya.

    Dia seorang gadis yang ingin terus bersama dengan pasangannya, Jika sedang di luar, tak ingin pulang. Jika di rumah, ingin terus bertemu.

    -Kasihan laki-lakinya, harus menjemput dan mengantarnya.

    Dia seorang gadis yang ingin berpergian kemanapun dengan pasangannya. Berpergian mengunjungi tempat yang sudah ratusan kali mereka kunjungi.

    -Kasihan laki-lakinya, harus menahan rasa bosan agar si gadis senang.

    Dia seorang gadis yang cepat berubah perasaannya. Mudah tertawa dan sangatlah mudah baginya untuk sedih.

    -Kasihan laki-lakinya, harus menahan rasa sebal dan amarahnya.

    Dia seorang gadis yang hanya bisa menjawab 'terserah' ketika sedang mencari makan.

    -Kasihan laki-lakinya, harus memutar otak mencari tempat.


    Dia seorang gadis, hanyalah seorang gadis. 
    Yang ingin dituruti, ingin ditemani, ingin dimengerti.

    Dia seorang gadis.
    .
    .
    .
    .
    .
    Hanya seorang gadis.
    Continue Reading


    Hai. Saya Alvinia, biasa dipanggil Alvi sejak jadi mahasiswa.

    Saya orangnya polos, tidak mengerti apapun. Ada dua hal yang membuat saya seperti itu. Pertama, saya tidak ingin tahu dan kedua, saya tidak peduli.

    Mungkin, lamban atau sulit mengerti bisa menyelip di antara dua hal tersebut.

    Saya sedang bingung dan sedih.

    Pernah tidak kamu ada di posisi dimana ingin seseorang selalu ada di sampingmu? Melakukan hal yang kamu suka? Dan ketika orang tersebut tidak melakukan hal tersebut kamu jadi bingung untuk harus melakukan apa agar dia ada di sampingmu, mendengarkanmu? Jika iya, pasti kamu sedih.

    Saya ingin membuat dia menjadi seperti apa yang saya inginkan? Iya benar.
    Saya ingin dia mendengarkan saya? Iya benar.
    Saya ingin dia melakukan apa yang saya inginkan? Iya benar.
    Saya ingin dia melakukan hal yang bermanfaat, positif, dan baik untuk dia? Tentu.

    Saya egois? Iya, benar.

    Egois agar dia tetap ada di posisi yang baik untuk dirinya sendiri, bukan untuk temannya atau orang-orang tertentu.

    Saya hanya tidak ingin dia terlena dengan tawaran dari orang lain—yang mempunyai manfaat bagi orang tersebut?

    Orang itu memanfaatkan dia? Orang itu mengambil kesempatan? Orang itu jahat—kata anak kecil?

    Saya tidak tahu. Kali ini saya tidak mengerti akan maksud orang tersebut.

    Yang jelas, saya peduli dan menyayangi dia dan tidak ingin dia dimanfaatkan orang lain.



    - 11 Desember 2015, pukul 02.25 AM ditulis dengan mata sembab yang menyender di bantal dan dalam dekapan guling -
    Continue Reading
    Older
    Stories

    Follow Me

    Follow @alviniagutomo

    Labels

    Event Holiyay! Ilmu Komunikasi Random thoughts

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  January (1)
        • Mau Travelling? Bikin Itinerary dulu yuk!
    • ►  2020 (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2019 (5)
      • ►  October (1)
      • ►  September (1)
      • ►  August (1)
      • ►  February (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2018 (7)
      • ►  November (2)
      • ►  October (2)
      • ►  September (2)
      • ►  January (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  November (1)
      • ►  September (1)
      • ►  April (2)
      • ►  February (1)
    • ►  2016 (8)
      • ►  December (1)
      • ►  October (1)
      • ►  August (1)
      • ►  July (1)
      • ►  June (2)
      • ►  May (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2015 (5)
      • ►  December (3)
      • ►  March (2)
    • ►  2014 (1)
      • ►  August (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  March (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2012 (1)
      • ►  December (1)

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top