Instagram Twitter LinkedIn

Alohomora !

by Alvinia Yuliareza Gutomo

    • Home
    • Profile
    • Categories
    • Contact
    "Pada akhirnya semua telah berlalu
    Bagaimanapun kita telah melewati ini semua
    Biarlah ini menjadi kisah di pojok kenangan yang suatu hari nanti akan kita lupakan atau bahkan akan menjadi sebatas kenangan
    Yang terjadi telah terjadi
    Tidak ada yang bisa disalahkan kalau nyatanya dulu kita pernah sepakat untuk saling menyatukan
    Bagaimanapun, di masa lalu aku pernah kau sebut sayang dan begitupun juga kamu pernah menyemangatiku untuk berjuang meraih mimpiku
    Namun sudahlah, aku dan kau telah usai."
    -Boy Candra-

    Menurutku, ada saatnya kita perlu memberi waktu untuk bertanya pada diri sendiri. Bukan berarti harus 'menyediakan', ketika kita tersadar dengan sendiri, misalnya. Aku pernah membaca satu kalimat, bunyinya 'Time flies and nothing changes'. Muncul pertanyaan, benarkah tidak ada yang berubah? Yang aku tahu, waktu selalu memberi ruang untuk menunjukkan akan apa yang sedang atau telah terjadi. Segala sesuatu yang terjadi patutnya digolongkan dalam perubahan.

    Aku pernah bercerita sesuatu pada seorang teman. Sesuatu ini tentang hal yang aku rasakan dan baru saja aku sadari. Ketika orang yang telah ada untuk mengisi hari-hari, tiba saatnya memilih pergi. Cerita yang awalnya indah, akhirnya menjadi kisah yang membuat sedih. Memang benar, cerita-cerita itu akan menjadi kenangan—kesan atau sesuatu yang membekas dalam ingatan. 

    Kemudian, begini temanku menanggapinya:

    Yang bisa dipelajari, kenangan bukan untuk dilupakan,
    kenangan bakal selalu ada di sudut memori kita.
    Kenangan masa lalu baiknya ditumpuk dengan kenangan baru.


    Kita boleh jadi membenci atas kehidupan ini, boleh kecewa, boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka jangan rusak kapal kehidupan milikmu hingga dia tiba di dermaga terakhirnya (Tere Liye – Rindu: 284).

    Aku merasa telah berhasil melakukannya, ternyata belum. Aku masih berada pada tataran proses melupakan. Belum sepenuhnya. Katanya, itu hal yang wajar. Benarkah?
    Continue Reading


    Rindu.

    Dua suku kata yang membelenggu.

    --

    Aku merindukannya.

    Apa aku terlihat seperti orang yang malu untuk mengakuinya? Atau malah aku terlihat seperti gadis kecil yang merengek minta dibelikan balon dan harum manis?

    Tak cukup nyali aku untuk mengatakannya karena yang merasakan rindu adalah hatiku.
    Sedangkan aku bukan hanya persoalan tentang hatiku. Ada banyak hal lain yang ada dalam diriku.

    --

    Kemarilah. Aku bisikan sesuatu.

    Rindu ini sudah sampai pada tahap dimana tidak bisa lagi untuk dibendung. Dan aku mencintaimu dibalik jendela hitam bertuliskan rindu.

    --

    Dimana aku harus menumpahkannya? Aku yakin tak ada ruang yang muat untuk menampungnya. Aku pastikan itu.

    Jika rindu sendiri adalah sebuah rumah, sebagai penghuni setianya, maka aku tidak akan pernah mau beranjak pergi.

    Jika malam mampu berbicara, aku yakin ia bosan dan sudah mencekik tubuhku dengan udara dinginnya.

    --

    Rindu.

    Jadi, dimana itu?

    Apakah yang sedang dibicarakan lewat secangkir kopi? Atau keresahan yang coba disembunyikan dengan puntung rokok?

    Apa jangan-jangan...

    Rindu itu...






    Pelukan hangat yang kau berikan padaku semalam?

    --

    Rindu.

    Dapatkah kita saling bertemu?
    Continue Reading

    Kita adalah dua orang yang secara kebetulan duduk bersisian: berbagi matahari, laut, langit, cahaya, kapuk yang berterbangan, bebatuan, dan jejak bintang.


    Mungkin kita memang sedang tidak hendak beranjak kemana-mana.

    Kita hanya duduk di sini, menikmati waktu yang pelan-pelan menyelinapkan kata ke dalam tepian jemari. Kita sedang tidak terburu-buru, tidak juga sedang terlambat, bahkan tidak sedang mengejar waktu. Kita tidak sedang bergegas menuju suatu tempat.

    Sesekali, salah satu dari kita akan beranjak pergi. Yang lainnya tidak akan bertanya, tidak akan mencegah, dan tidak akan mengejar. Hanya memasang senyum dan melambaikan tangan.


    Ia yang pergi tidak pernah berjanji akan kembali. Ia yang tinggal tidak berucap akan menunggu yang pergi kembali.


    Semua yang memang untukmu pada akhirnya akan kembali padamu. Semua yang bukan untukmu, tidak akan pernah menjadi milikmu meski sekeras apapun kamu berusaha.

    Mungkin kita hanya saling menemukan, meski sekalipun tidak merasa kehilangan.

    Sesekali, aku akan pergi dan kamu sesekali akan pergi. Suatu hari nanti, kita akan pulang. Entah kemana. Mungkin ke tempat ini lagi atau mungkin ke tempat lain.

    Suatu hari nanti, aku akan kembali dan kamu akan kembali. Atau mungkin tidak. Tetapi, hal itu bukan masalah. Karena saat ini memang kita sedang tidak hendak beranjak kemana-mana. Saat ini, itulah tujuan kita, untuk sementara.
    Continue Reading




    "Perpisahan yang menyedihkan ialah perpisahan karena kesalahpahaman"


    Merasa sedih karena disalahkan dan menyalahkan
    Kecewa dengan perlakuan dan bagaimana diperlakukan
    Berujung pasrah akan keadaan



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah tidak tahu akan apa yang telah diperjuangkan"


    Berpikir merasa lebih baik jika sendiri
    Percaya bahwa dirinya gagal menjadi orang yang dibutuhkan
    Memilih menjauh dan mengakhiri



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah sadar bahwa dirinya lelah"


    Menimbang apa yang telah dilakukan
    Membandingkan dengan apa yang telah didapat
    Menggenggam sejuta angan



    "Perpisahan yang menyedihkan ialah tanpa tahu harus hidup bagaimana setelahnya"


    Tidak banyak yang dilakukan
    Memilih untuk menghindar
    Bertindak seolah tidak ada


    "Perpisahan yang menyedihkan ialah perpisahan karena kesalahpahaman"


    p.r.a.s.a.n.g.k.a


    menjadi menyedihkan ketika keduanya sadar setelah berpisah



    ----



    Perpisahan ialah upacara untuk menyambut hari-hari penuh rindu
    -Pidi Baiq-




    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    Follow Me

    Follow @alviniagutomo

    Labels

    Event Holiyay! Ilmu Komunikasi Random thoughts

    Blog Archive

    • ▼  2021 (1)
      • ▼  January (1)
        • Mau Travelling? Bikin Itinerary dulu yuk!
    • ►  2020 (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2019 (5)
      • ►  October (1)
      • ►  September (1)
      • ►  August (1)
      • ►  February (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2018 (7)
      • ►  November (2)
      • ►  October (2)
      • ►  September (2)
      • ►  January (1)
    • ►  2017 (5)
      • ►  November (1)
      • ►  September (1)
      • ►  April (2)
      • ►  February (1)
    • ►  2016 (8)
      • ►  December (1)
      • ►  October (1)
      • ►  August (1)
      • ►  July (1)
      • ►  June (2)
      • ►  May (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2015 (5)
      • ►  December (3)
      • ►  March (2)
    • ►  2014 (1)
      • ►  August (1)
    • ►  2013 (2)
      • ►  March (1)
      • ►  January (1)
    • ►  2012 (1)
      • ►  December (1)

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top